Sunday, 12 March 2017

Mendapatkan Uang Dengan Alasan Bisa Bersedekah

Aku selalu mikir bagaimana mendapatkan uang dengan alasan nanti bisa bersedekah, berinfaq dan berjariyah dan lain-lainnya.

Maka akupun enggan bekerja yang secara perhitungan berpenghasilan kecil, jadinya duit kecil tidak mau terima karena rata-rata sababiyyahnya merendahkan aku sebagai orang yang merasa mulia, duit besarpun tidak mau mendekat.

Dalam otak dan hati aku selalu menggambarkan banyak, banyak dan banyak, tidak tahunya Gajah dan Kelinci itu sama-sama makan rumputnya, jika jatah rumput Gajah dimakan Kelinci, perut Kelinci akan meledak. Demikianlah sesungguhnya jatah masing-masing itu sesuai ukurannya dan tidak perlu ditukar-tukar.

Baca Juga : Sebenarnya, Orang Kecil Adalah Orang Besar

Bersamaan dengan angah-angah itu, nafsu sedemikian pintarnya menipu dengan membisikkan rayuan gombalnya, bahwa hidup demikian adalah hidup yang ideal dan agamis, bahkan mencapai derajat zuhud.

والزهدفي الزنياأصل كل الخير، وليس الزهدبتحريم
الحلال ولاياضاعةالمال، وإنماالزهدأن تكون بمافي يدالله أوثق منك بمافي يد ك

"Zuhud dalam dunia adalah sumber segala kebaikan, zuhud bukanlah dengan menahan perkara yang halal dan tidak dengan menyia-nyiakan harta, tetapi zuhud adalah kita lebih percaya apa yang berada dalam kekuasaan Alloh daripada apa yang ada dalam kekuasaan kita" (Al Nashikhatul Kafiyah Juz 1 hal. 71)

Terima kasih sudah mampir baca :)

Thursday, 9 March 2017

Non-Muslim Yang Berjasa Kepada Nabi Muhammad



Dalam episode kehidupan Nabi Muhammad ada sejumlah orang yang tidak atau (saat itu belum) bergabung dalam barisan umat, namun telah membantu Nabi Muhammad SAW dengan cara mereka masing-masing. Mereka melindungi, memandu, membantu dan berteman setia kepada Nabi Muhammad dan secara tidak langsung membantu perjuangan dakwah Nabi Muhammad.

Kita mulai dengan Waraqah bin Naufal, sosok yang hanif. Di saat Nabi Muhammad guncang jiwanya dan merasa ragu benarkah telah didatangi malaikat Jibril. Khadijah membawa Nabi Muhammad menemui Waraqah. Setelah menyimak cerita Nabi Muhammad dan lima ayat pertama yang diterimanya, Waraqah berkata: "Ini adalah orang yang sama yang membawa wahyu yang telah dikirim Allah kepada Musa (malaikat Jibril)".

Pernyataan Waraqah itu menenangkan Nabi Muhammad. Pada saat kritis di awal kenabian, Waraqah telah memberi kesaksian bahwa yang datang kepadanya itu malaikat Jibril, bukan syetan.
Baca Juga : 13 Kesalahan Bahasa Tubuh Orang
Sosok kedua yang membantu Nabi Muhammad adalah pamannya Abu Thalib. Tidak perlu saya tuliskan ulang kisahnya di sini. Semua mafhum akan perlindungan yang diberikan Abu Thalib, kepala suku Quraisy, kepada keponakannya ini. Pada masa itu sistem klan begitu kuat, siapa yang mendapat perlindungan sebuah klan maka hidupnya aman. Siapa yang berani mencelakakannya akan berhadapan dengan klan tersebut. Maka perlindungan Abu Thalib telah membuat Nabi aman. Cuma ada gangguan kecil saja.

Namun bagaimana dengan umat Nabi Muhammad? Suku Quraisy adalah suku terhormat sehingga Nabi Muhammad tidak terancam jiwanya, tapi sahabat-sahabat yang lain mengalami berbagai ancaman yang berat. Maka Nabi memerintahkan para sahabat hijrah ke Habasyah. Ini negeri Kristen. Para sahabat kemudian dilindungi oleh Raja Habasyah. Lihatlah bagaimana para sahabat mencari perlindungan ke negeri berpenduduk Kristen, persis seperti sekarang gelombang pengungsi dari Syiria, Yaman, Libya, Iraq, Afghanistan, Tunisia memasuki Eropa dan berlindung di negara Kristen.

Nabi Muhammad masih aman sampai kemudian Abu Thalib wafat. Maka Abu Lahab yang mengomandani suku Quraisy mengumumkan melepaskan perlindungan kepada Nabi Muhammad. Itu artinya siapapun bisa membunuh beliau dan tidak akan ada suku Quraisy yang membelanya. Nasib pilu membuat Nabi lari dikejar-kejar mereka yang hendak mencelakakannya. Nabi dengan berdarah-darah dilempari penduduk Thaif.

Untunglah ada kepala suku kecil yang bersedia melindungi Nabi Muhammad. Mu'thim bin Adi mengumumkan bahwa Muhammad berada dalam perlindungannya. Amanlah saat itu nyawa Nabi Muhammad. Mu'thim tidak percaya agama Allah tapi dia mau melindungi Muhammad SAW saat itu. Mu'thim melepaskan perlindungan setelah peristiwa isra mi'raj dimana dia menuduh Nabi Muhammad berbohong dan karenanya dia secara terbuka melepaskan jaminan perlindungannya terhadap Nabi Muhammad SAW.

Dalam kondisi itulah turun perintah hijrah ke Yatsrib. Saat itu nyawa Muhammad SAW benar-benar terancam, hanya hijrah satu-satunya jalan keluar. Abu Bakar dan Nabi Muhammad memutuskan pergi malam-malam ke Yatsrib. Mereka ditolong oleh seorang non-Muslim namanya Abdullah bin Arqat (saat itu belum masuk islam). Abdullah bin Arqat inilah yang memimpin perjalanan Nabi melewati jalan yang tidak biasa guna mengelabui dan menghindari kejaran kafir jahiliyah. Sekali lagi, non-Muslim berjasa di sini.

Terakhir, banyak yang tidak tahu bahwa ada seorang rabbi Yahudi yang sangat sayang kepada Nabi Muhammad. Mukhayriq namanya. Dia seorang kaya raya dan kemudian memutuskan ikut perang Uhud membela Nabi Muhammad. Dia berwasiat bahwa kalau dia terbunuh maka semua kekayaannya diserahkan kepada Nabi Muhammad.

Peperangan terjadi pada hari sabtu, dan sebagai Yahudi seharusnya dia diam di rumah. Namun dia memutuskan tetap pergi membantu Nabi Muhammad. Dalam keadaan terluka parah di perang Uhud, Nabi Muhammad diberitahu bahwa Mukhayriq telah gugur dan memberikan kekayaannya untuk Nabi Muhammad. Nabi berkomentar: "dia yahudi terbaik!".

Sejarah menyisakan cerita manis bagaimana Nabi Muhammad SAW menjalin hubungan baik dengan non-Muslim. Sekarang membaca kembali sejarah ini, tiba-tiba saya merasa malu sekali: di tangan kita Islam telah berubah dari agama yang menebar rahmat menjadi agama yang gampang melaknat; dari agama yang begitu ramah menjadi agama yang penuh api amarah, dari agama yang penuh kasih sayang menjadi agama yang pemeluknya sedikit-sedikit merasa tersinggung dan berteriak, "ini penistaan agama!"

Tabik,

Nadirsyah Hosen
Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia - New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School

Wednesday, 8 March 2017

Ketika Ibn Abbas Berfatwa: Lihat Matanya!


Imam Nawawi dalam kitab al-Majmu' menuliskan kutipan di bawah ini:

قال الصيمري: إذا رأى المفتي المصلحة أن يفتي العامي بما فيه تغليظ وتشديد وهو مما لا يعتقد ظاهره وله فيه تأويل جاز ذلك؛ زجرا وتهديدا في مواضع الحاجة حيث لا يترتب عليه مفسدة، كما روي عن ابن عباس -رضي الله عنهما- أنه سأله رجل عن توبة القاتل فقال: لا توبة له، وسأله رجل آخر فقال: له توبة، ثم قال: أما الأول فرأيت في عينيه إرادة القتل فمنعته، وأما الثاني فجاء مستكينا قد قتل فلم أقنطه.

Kalau saya narasikan dalam bentuk cerita akan seperti ini:

Lelaki itu menerobos masuk ke Masjid, di tangannya ada sebilah pedang. Di depan jamaah yang mengelilingi Ibn Abbas, lelaki itu bertanya: "Apakah Allah menerima tobat mereka yang membunuh orang lain?" Ibn Abbas menjawab dengan tenang: "Tentu saja, bukankah Allah itu Maha Pengampun?! Lelaki itu segera berlalu.

Dua jam kemudian lelaki lain tiba-tiba memasuki Masjid. Ada pedang di tangan kanannya. Tanpa mempedulikan jamaah yang ketakutan, lelaki itu bertanya kepada Ibn Abbas, "Apakah Allah menerima tobat mereka yang membunuh orang lain?" Ibn Abbas dengan tegas menjawab: "Tidak! Allah akan mengazab mereka yang membunuh jiwa tak berdosa!" Lelaki itu segera berlalu dari Masjid.

Baca Juga : 13 Kesalahan Bahasa Tubuh Orang

Jamaah terpana dengan dua jawaban berbeda dari Ibn Abbas. "Mengapa anda memberikan fatwa yang berbeda pada pertanyaan yang sama? Apa dalilnya Ya Syekh?" tanya seorang murid.

Ibn Abbas menjawab: "lihat saja sorot mata kedua lelaki tersebut. Yang pertama, sorot matanya penuh penyesalan. Boleh jadi dia baru saja membunuh orang, dia ingin tahu apakah Allah akan menerima tobatnya setelah apa yang dia lakukan. Tentu saja aku sampaikan padanya bahwa ampunan Allah itu sangat luas. Adapun lelaki kedua sorot matanya penuh amarah. Dengan bertanya padaku boleh jadi dia punya rencana untuk membunuh orang lain. Sebelum peristiwa itu terjadi, aku harus memberikan fatwa yang bisa menghalangi rencana jahatnya."

Begitulah hebatnya seorang Mufti. Dia harus tahu kapan bersikap lunak dan kapan tegas. Itu semua membutuhkan bukan saja pengetahuan akan ilmu keislaman tapi juga bacaan akan kondisi psikologis penanya, konteks sosiologis umat, dan hal-hal terkait lainnya.

Anda ingin fatwa yang halal atau fatwa yang haram? Fuqaha akan memberikan jawabannya, bukan semata-mata berdasarkan dalil, tapi juga sesuai dengan situasi dan kondisi. Komitmen mereka bukan pada konsistensi, tapi pada kebenaran --yang seringkali situasional, kondisional dan tergantung kasus serta urgensinya. Jawaban mereka yang anda anggap berbeda itu sebenarnya bisa dikembalikan kepada maqashid al-syari'ah.

Kisah Ibn Abbas di atas juga diceritakan oleh Imam al-Qurtubi dalam kitab tafsirnya:

أخبرنا أبو مالك الأشجعي عن سعد بن عبيدة قال : جاء رجل إلى ابن عباس فقال ألمن قتل مؤمنا متعمدا توبة ؟ قال : لا ، إلا النار ؛ قال : فلما ذهب قال له جلساؤه : أهكذا كنت تفتينا ؟ كنت تفتينا أن لمن قتل توبة مقبولة ؛ قال : إني لأحسبه رجلا مغضبا يريد أن يقتل مؤمنا . قال : فبعثوا في إثره فوجدوه كذلك . وهذا مذهب أهل السنة وهو الصحيح

Bukan saja Imam Qurtubi mencantumkan sanad kisah Ibn Abbas di atas, tapi beliau juga memberi komentar: "inilah mazhab ahlus sunnah dan ini shahih!"

Imam Nawawi menuliskan satu kutipan penting lagi di bawah ini dalam kitab al-Majmu'

‎قال : وذكر صاحب الحاوي أن المفتي إذا نابذ في فتواه شخصا معينا صار خصما حكما معاندا ، فترد فتواه على من عاداه كما ترد شهادته عليه

"[Ibn Shalah] berkata bahwa pengarang kitab al-Hawi telah mengingatkan jika seorang mufti menunjukkan kebenciannya kepada seseorang maka fatwanya ditolak terhadap orang itu, begitu juga kesaksiannya tentangnya."

Di sinilah pentingnya mufti memandang umat dengan pandangan cinta, bukan pandangan kebencian. Fatwa yang berpotensi menimbulkan kemudaratan harus dikalkulasi ulang karena setiap fatwa akan ada konsekuensinya. Apalagi fatwa yang dikeluarkan berdasarkan sentimen kebencian dan tanpa proses tabayyun.

Ibn Abbas mengajarkan para ulama untuk melihat sorot mata orang yang meminta fatwa. Ibn Shalah mengingatkan para ulama untuk tidak memandang orang dengan kebencian karena nanti fatwanya pun bernuansa kebencian.

Kebenaran itu berlapis-lapis seperti yang Allah ceritakan dalam kisah Nabi Khidr dan Nabi Musa. Anda boleh memilih menjadi Nabi Khidr atau Nabi Musa, tidak mengapa, asalkan anda jangan memilih menjadi Fir'aun yang selalu merasa benar; tidak pernah merasa salah. Percayalah, sorot mata Khidr, Musa dan Fir'aun itu berbeda kok

Salam sejahtera dengan penuh kasih sayang,

Nadirsyah Hosen
Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School

Tuesday, 7 March 2017

Ketika Imam Al-Mawardi Membela Imam Muzani Dari Para Haters



Imam al-Muzani (175-264 H) merupakan santri langsung dari Imam Al-Syafi'i. Imam Syafi'i menyebutnya sebagai "pembela mazhabku". Beliau menuliskan kitab Mukhtashar yang tersebar luas sebagai panduan ringkas memahami mazhab Syafi'i. Setelah menulis Bismillahirrahmanirrahim, Imam Muzani memulai kitabnya dengan kalimat

‎اخْتَصَرْت هَذَا الْكِتَابَ مِنْ عِلْمِ مُحَمَّدِ بْنِ إدْرِيسَ الشَّافِعِيِّ - رَحِمَهُ اللَّهُ -

Kalimat di atas bermakna penegasan bahwa apa yang dia tulis dalam satu jilid kitab ini hanyalah merupakan ringkasan dari apa yang beliau pelajari dari Imam Syafi'i.

Ini adalah tawadhu' seorang santri kepada Sang Kiai.

Seratus tahun kemudian, seorang ulama terkenal dari Mazhab Syafi'i yang bernama al-Mawardi (362-448 H) menulis kitab al-Hawi al-Kabir berisikan 20 jilid yang memberi syarh (penjelasan) atas kitab Mukhtashar Muzani. Imam al-Mawardi ini seorang Ketua Mahkamah Agung yang menulis kitab tafsir al-Nukat wa al-'Uyun dan tentu saja yang sangat terkenal yaitu kitab al-Ahkam al-Sulthaniyah.

Imam al-Mawardi memulai kitab al-Hawi al-Kabir dengan menuliskan lafaz basmalah, kemudian doa "Allahumma yassir wa a'in Ya Karim" kemudian mengucapkan hamdalah. Setelah itu beliau mencantumkan pembelaan dari mereka yang menyerang Imam Muzani. Apa pasal?

‎ابْتَدَأَ الْمُزَنِيُّ بِهَذِهِ التَّرْجَمَةِ فِي كِتَابِهِ فَاعْتَرَضَ عَلَيْهِ فِيهَا مِنْ حُسَّادِ الْفَضْلِ مَنْ أَغْرَاهُمُ التَّقَدُّمُ بِالْمُنَازَعَةِ، وَبَعَثَهُمُ الِاشْتِهَارُ عَلَى الْمَذَمَّةِ، وَكَانَ مِمَّنِ اعْتَرَضَ عَلَيْهِ فِيهَا " النَّهْرُمَانِيُّ " وَ " المغربي " و " القهي " وَأَبُو طَالِبٍ الْكَاتِبُ، ثُمَّ تَعَقَّبَهُمُ ابْنُ دَاوُدَ فَكَانَ اعْتِرَاضُهُمْ فِيهَا مِنْ وُجُوهٍ؛ فَأَوَّلُ وُجُوهِ اعْتِرَاضِهِمْ فِيهَا أَنْ قَالُوا: لِمَ لَمْ يَحْمَدِ الله تعالى
‎تَبَرُّكًا بِذِكْرِهِ وَاقْتِدَاءً بِغَيْرِهِ، وَاتِّبَاعًا لِمَا رَوَاهُ الْأَوْزَاعِيُّ عَنْ قُرَّةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ - قَالَ: " كُلُّ أَمْرٍ ذِي بَالٍ لَمْ يُبْدَأْ فِيهِ بِحَمْدِ اللَّهِ فَهُوَ أَبْتَرُ ".

Baca Juga : Apakah Aku Termasuk Golongan Penghujat?

Rupanya menurut para "haters" --meminjam istilah yang trend di medsos saat ini-- mengapa Imam Muzani tidak memulai kitab Mukhtashar dengan kalimat hamdalah padahal menurut satu riwayat Hadis Nabi dari Auza'i: "semua perkerjaan penting yang tidak dimulai dengan Alhamdulillah akan terputus (dari rahmat Allah)."

Sisi tawadhu' Imam Muzani dalam kalimat pembuka kitabnya justru dipersoalkan. "Haters" telah memelintirnya dengan menganggap kitab ini tidak barakah. Ketimbang mengulas isi kitabnya, mereka malah menyerang kalimat pembukanya. Di sinilah Imam al-Mawardi membela Imam al-Muzani dengan memberikan lima jawaban.

Pertama, kalau pertanyaan kepada Imam Muzani itu merupakan pekerjaan penting, mengapa pula yang bertanya tidak memulainya dengan hamdalah, dan kalau tidak penting mengapa pula harus dibahas?!

Kedua, meninggalkan hamdalah itu keliru, tapi Imam Muzani tidak keliru karena beliau hanya tidak menuliskan lafaznya saja di awal kitab, bukan berarti meninggalkan puji-pujian kepada Allah sama sekali. Imam Muzani bahkan shalat dua rakaat setiap selesai menulis satu bab --indikasi Imam Muzani tidak melupakan koneksi dengan Allah.

Ketiga, lafaz hamdalah tidak ditulis di awal kitab, tetapi tetap ditulis oleh Imam Muzani dalam bagian lain kitabnya. Beliau menulis: "Alhamdulillah alladzi la syarika lahu, alladzi huwa kama washafa wa fawqa ma yasfihu bihi khalquh...."

Keempat, menurut Imam al-Mawardi yang dimaksud mengucapkan hamdalah itu intinya adalah mengingat Allah, dan ini sudah terwakili oleh Imam Muzani ketika memulai kitabnya dengan Bismillahirrahmanirrahim.

Kelima, konteks Hadis memulai dengan hamdalah itu adalah saat berkhutbah, bukan menulis kitab. Kalau diartikan harus memulai dengan hamdalah di semua hal maka menurut Imam Mawardi wahyu pertama yang Nabi Muhammad terima saja ayat Iqra' bukan dimulai dengan hamdalah. Apa mungkin kemudian antara ucapan dan perbuatan Nabi saling bertentangan dan apa berani kita mengatakan al-Qur'an itu terputus dari rahmat Allah karena ayat pertamanya bukan diawali dengan hamdalah? Dan lagipula kalau benar yang tidak memulai hamdalah pada kitabnya akan terputus dari rahmatNya, nyatanya kitab yang ditulis Imam Muzani ini sangat terkenal dan bermanfaat dibanding yang lainnya.

Demikian pembelaan Imam al-Mawardi. Saya hendak menambahi bahwa serangan semacam itu bukan hanya dialami Imam Muzani tapi juga dialami oleh Imam Bukhari. Dalam Kitab Fathul Bari yang men-syarh kitab Shahih Bukhari dikupas bagaimana Imam Bukhari yang memulai kitabnya dengan menulis Bismillahirrahmanirrahim mendapat serangan dari pihak lain. Mereka mempersoalkan kenapa tidak memulainya dengan hamdalah. Ibn Hajar kemudian memberikan pembelaannya terhadap Imam Bukhari.

Kembali kepada serangan terhadap Imam Muzani, pertanyaannya siapa sih yang mengkritik beliau soal hamdalah ini? Imam Mawardi menyebut beberapa nama diantaranya al-Nahrumani dan al-Maghribi. Jelas ini hanya sekedar nickname bukan nama lengkap. Jadi siapa para "haters" itu? Mungkin pada masa Imam al-Mawardi kedua panggilan ini sudah mafhum diketahui (katakanlah kalau jaman sekarang itu menyebut Jo*ru atau To*a Lem*n maka para pemakai medsos sudah mafhum semua). Tapi kita yang hidup 900 tahun kemudian tentu bertanya-tanya.

Pelacakan saya untuk al-Nahrumani itu boleh jadi nama lengkapnya Najmuddin Muhammad al-Shalihi al-Nahrumani, yang merupakan Ulama mazhab Hanbali. Bagaimana dengan al-Maghribi? Kemusykilannya biasanya kitab-kitab mazhab Syafi'i menyebut al-Maghribi itu kepada Ibn Hazm al-Andalusi dari mazhab Zhahiri. Ada kemungkinan yang dimaksud al-Maghribi dalam kitab al-Mawardi ini adalah al-Husain bin 'Ali bin al-Husain al-Wazir Abul Qasim yang wafat tahun 418 H sebelum masanya al-Mawardi. Benar atau tidaknya, ya meneketehe lah hehhehe

Nah, pelajaran penting: dunia pengetahuan hanya akan mengenang mereka yang berkarya. Para "haters" yang biasanya hanya mengkritik dan tidak melahirkan karya penting dan berkualitas mereka akan dilupakan sejarah. Ratusan tahun kemudian anak cucu kita akan kesulitan melacak siapa mereka. Karena itu jangan hiraukan "haters", teruslah kita produktif berkarya dan sejarah akan mencatat karya dan pengabdian kita. Insya Allah!

Nadirsyah Hosen
Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School

Friday, 10 February 2017

Kisah Nabi Muhammad Dengan Pengemis Buta


Alkisah..

Di sudut pasar Madinah Al-Munawarah seorang pengemis Yahudi buta, hari demi hari apabila ada orang yang mendekatinya ia selalu berkata "Wahai saudaraku jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya".

Setiap pagi Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawa makanan, dan tanpa berkata sepatah kata pun Rasulullah SAW menyuapi makanan yang dibawanya kepada pengemis itu walaupun pengemis itu selalu berpesan agar tidak mendekati orang yang bernama Muhammad.
Rasulullah SAW melakukannya setiap hari hingga menjelang Beliau SAW wafat.

Setelah kewafatan Rasulullah tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu. Suatu hari Abu Bakar r.a berkunjung ke rumah anaknya Aisyah r.ha.

Beliau bertanya kepada anaknya, "anakku adakah sunnah kekasihku yang belum aku kerjakan", Aisyah r.ha menjawab pertanyaan ayahnya, "Wahai ayahanda engkau adalah seorang ahli sunnah hampir tidak ada satu sunnah pun yang belum ayahanda lakukan kecuali satu sunnah saja".

"Apakah Itu?", tanya Abu Bakar r.a.
Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang berada di sana", kata Aisyah r.ha.

Baca Juga : Baju Dan Akhlak Yang Dipamerkan

Keesokan harinya Abu Bakar r.a. pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikannya kepada pengemis itu. Abu Bakar r.a mendatangi pengemis itu dan memberikan makanan itu kepada nya.

Ketika Abu Bakar r.a. mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil berteriak, "siapakah kamu ?". Abu Bakar r.a menjawab, "aku orang yang biasa". "Bukan !, engkau bukan orang yang biasa mendatangiku", jawab si pengemis buta itu.

Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut dengan mulutnya setelah itu ia berikan pada ku dengan mulutnya sendiri", pengemis itu melanjutkan perkataannya. Abu Bakar r.a. tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, aku memang bukan orang yang biasa datang pada mu, aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada lagi.

Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW. Setelah pengemis itu mendengar cerita Abu Bakar r.a. ia pun menangis dan kemudian berkata, benarkah demikian?, selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa
makanan setiap pagi, ia begitu mulia....

Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat dihadapan Abu Bakar r.a.

SUBHANALLAH....INILAH AKHLAK PANUTAN KITA, INILAH AKHLAK SANG TELADAN KITA.

Keluhuran akhlak Nabi SAW ini adalah cermin yang bersih dan indah yang membawa kita untuk bisa berkaca dengannya di dalam kehidupan kita sesama manusia dalam segala lapisannya. Sebab akhlak Nabi adalah cerminan Al-Qur`an yang sesungguhnya. Bahkan beliau sendiri adalah Al-Qur`an hidup yang hadir di tengah-tengah ummat manusia. Membaca dan menghayati akhlak beliau berarti membaca dan menghayati isi kandungan Al-Qur`an. Itulah kenapa ‘Aisyah sampai berkata:
“akhlak Nabi adalah Al-Quran.”

Akhlak alkarimah menjadi kunci keberhasilan beliau membangun bangsa dari kenistaan kearah keniscayaan. Beliau SAW menjanjikan bahwa akhlaq yang lurhurlah menjadi beratnya timbangan amal di akherat :
“Tidak ada sesuatu yang lebih berat timbangannya (kelak diakherat) dari pada akhlak yang mulia.”

Saya sebagai ketua Lembaaga Dakwah PBNU selalu mengajak agar kita mengedepakan akhlaq alkarimah diatas yang lain. Mendahulukan akhlak alkarimah diatas perbedaan. Mendahulukan akhlak alkarimah diatas kepentingan dan perbedaan.

Mudah-mudahan kita semua berada dalam kehidupan yang akhlaqi, selalu memperoleh pancaran nur akhlak manusia mulya Muhammad SAW

Dakwah Ramah



Di suatu daerah, pernah terjadi konflik antar-elite politik yang memberi izin sebuah pementasan seni, tetapi para tokoh agama menganggap kesenian itu tidak layak dipentaskan di kota tersebut. Kedua kelompok memasuki labirin konflik yang sarat kontradiksi dengan cara melontarkan argumentasi yang berbeda menurut perspektif masing-masing.

Reaksi keras itu merupakan bentuk protes dan keprihatinan yang wajar dari para ulama sebagai pemegang otoritas keagamaan. Mereka merasa bertanggung jawab untuk melakukan apa yang disebut dalam term Islam sebagai amar makruf nahi munkar, yakni mengajak manusia kepada jalan kebaikan dan mencegah manusia dari hal-hal yang munkar (buruk, jahat, dan lain-lain). Sedangkan, pihak aparat mengatakan telah ada kesepakatan dari berbagai pihak untuk menggelar pementasan tersebut.

Kekuatan Logika atau Logika Kekuatan?.

Penulis sendiri tidak terlalu peduli tentang gagal atau tidaknya pementasan tersebut. Tetapi, perdebatan yang berkembang tentang pementasan itu seharusnya bisa merangsang tumbuhnya masyarakat yang berpikiran kritis dan peduli terhadap problem sosial tanpa terjebak pada argumentasi yang picik dan naif. Masyarakat seharusnya memperlihatkan argumentasi yang sehat berdasarkan “kekuatan logika”, bukan “logika kekuatan”. Suara umat, hak publik, dan kepentingan masyarakat sudah selayaknya mendapatkan ruang yang cukup agar kehidupan menjadi semakin baik dan sehat.

Yang mengkhawatirkan, sering kali masyarakat hanya menjadi tumbal bagi para elite politik maupun agama yang bersikap ambigu.

Baca Juga : Nilai Sebutir Nasi

Para elite politik dan agama itu kadang menghadapi situasi kekikukan dan kesulitan, sekaligus terjebak pada romantisme kemapanan, klaim kebenaran, dan ketertutupan dalam tradisinya sendiri yang picik dan eksklusif. Banyak pemimpin umat yang mengalami kegagapan mental dan intelektual menghadapi kemajuan budaya yang kompleks dan dinamis. Implikasinya, umat Islam pun kehilangan vitalitas, daya hidup dan daya saing di tengah kehidupan yang semakin dinamis, progresif, dan penuh tantangan.

Hal ini tercermin dari sepak terjang beberapa tokoh Muslim yang tidak menyentuh substansi persoalan yang berkembang di masyarakat. Hal itu terlihat dari terabaikannya problem-problem kemanusiaan serta tercerabutnya nilai spiritualitas dan nalar pembaruan dari para tokoh agama dalam perubahan yang sangat cepat. Kondisi seperti itu, bisa memerosotkan citra dan meruntuhkan kekuatan Islam dan umat Islam itu sendiri.

Eksploitasi umat untuk kepentingan politik serta wilayah kekuasaan tertentu yang dilakukan para pemuka agama, tokoh masyarakat, dan elite politik dengan logika serta selera sendiri tanpa mempertimbangkan aspek kemaslahatan umat di satu sisi, serta menghegemoni dan mendominasi peran, kesempatan, dan pandangan umat yang pluralistik di sisi yang lain, akan semakin memperparah keadaan umat yang telah terperosok pada jurang kemiskinan, kekerasan, perpecahan, dan pandangan sempit yang terpisah dari realitas.

Begitu pula, berhentinya ikhtiar para pemuka agama untuk mempertemukan gagasan dan pemikiran yang emansipatif dan eksploratif, baik bercorak keagamaan maupun kebudayaan, telah membuat ajaran Islam yang bersifat universal, inklusif, dan liberatif, kehilangan kemampuan dan daya pesonanya dalam proses akulturasi dan asimilasi berbagai tradisi serta budaya lokal yang selama ini menjadi roh dakwah Islam, sehingga bisa terwujud peradaban Islam yang rahmatan lil-‘âlamîn.

Penulis setuju bahwa kemaksiatan harus diperangi, tetapi jangan pada kasus fenomenal yang bersifat sesaat. Yang lebih penting untuk direspons adalah problem kemanusiaan yang sangat mendasar seperti persoalan judi, narkoba, korupsi, perusakan alam, dan sedemikian banyak kezaliman lainnya yang merajalela di negeri ini. Korupsi, misalnya, bagaikan kanker ganas yang terus menggerogoti negeri ini. Akibat korupsi, rakyat--khususnya kaum lapis bawah--semakin sengsara dan negeri ini berada di ambang kebangkrutan!

Kita juga perlu merespons berbagai fenomena “pembusukan sendi kehidupan” yang kian marak di negeri ini, misalnya tampak pada mewabahnya budaya instan di tengah masyarakat materialistik-konsumeristik. Banyak orang berusaha sukses dan kaya tanpa harus berusaha. Dakwah yang ramah dan tepat sasaran akan punya makna bila diteruskan dengan kerja keras, kerja cerdas, dan membangun jejaring (networking) dengan semua komponen masyarakat untuk merespons persoalan-persoalan sosial, politik, budaya, ekonomi, dan seterusnya yang lebih mendasar.


Nilai Sebutir Nasi



Dalam perjalanan mencari ilmu, Habib Lutfi Bin Yahya Pekalongan berjumpa dengan seorang Kiai Sepuh.

Habib muda terheran-heran ketika menyaksikan akhlak Kiai Sepuh yang luar biasa. Yakni, ketika makan ada butiran nasi yang terjatuh lalu dipungut dan dikembalikan ke piring untuk dimakan kembali.

"Kenapa harus diambil, Kiai. Kan cuma nasi sebutir," ujar Habib muda penasaran.

"Lho, jangan dilihat sebutir nasinya. Apa kamu bisa bikin nasi sebutir ini, bahkan seper seribu menir saja?".

Terdiamlah Habib muda.

Kiai sepuh melanjutkan, "Ketahuilah pada saat kita makan nasi, sesungguhnya Gusti Allah telah menyatukan banyak sekali peran. Nasi itu namanya Sego Bin Beras Bin Gabah Al Pari. Mulai dari mencangkul, menggaru, meluku, menanam benih, memupuk, menjaga hama hingga memanen ada jasa banyak sekali orang. Kemudian mengolah gabah menjadi beras, dari beras menjadi nasi juga banyak sekali peran hamba Gusti Allah di sana."

Baca Juga : Dakwah Ramah

"Ketika ada satu butir nasi, atau menir sekalipun yang jatuh, ambillah. Jangan mentang-mentang kita masih banyak cadangan nasi. Itu bentuk dari takabur, dan Gusti Allah tidak suka dengan manusia yang takabur. Selama jatuh tidak kotor dan tidak membawa mudlorot bagi kesehatan kita, ambillah, satukanlah dengan nasi lainnya, sebagai bagian dari syukur kita".

Habib muda pun menyimak lebih dalam.

"Karena itulah ketika akan makan, diajarkan doa:

اللهم بارك لنا فيما رزقتنا و قنا عذاب النا ر

Allahumma bariklana (Ya Allah semoga Engkau memberkati Kami). Bukan Allahumma barikli (Ya Allah semoga Engkau memberkatiku), walaupun sedang makan sendirian.

"'Lana' itu maknanya untuk semuanya, mulai petani, pedagang, pengangkut, pemasak hingga penyaji semuanya termaktub dalam doa tersebut. Jadi doa tersebut, merupakan ucapan SYUKUR serta MENDOAKAN SEMUA ORANG yang berperan dalam kehadiran nasi yang kita makan."

Kiai Sepuh melanjutkan, "satu lagi, mengapa urusan makan tapi doa: waqina ‘adzaban nar (jagalah kami dari siksa neraka). Apa hubungan, makan kok dengan neraka? Kan gak nyambung."

"Inggih Kiai. Kok bisa ya?" tanya Habib Luthfi penasaran.

" Jadi begini. Kita makan ini hanya wasilah, media. Yang memberi kenyang itu Gusti Allah. Kalau kita makan dan menganggap bahwa yang mengenyangkan kita adalah makanan yang kita makan, maka ingatlah, itu akan menjatuhkan kita dalam kemusyrikan. Musyrik adalah dosa terbesar bagi orang beriman".

"Astaghfirullahal ‘azhim..." Habib membatin.

Tidak menyangka maknanya sedalam itu.

“Bayangkan. Bila kita makan dan minum tetapi Allah tidak menghilangkan rasa lapar dan dahaga kita. Apalah jadinya?”, pungkas Kiai Sepuh.


SUMBER: KH. Maman Imanul Haq