Friday, 3 February 2017

Menyatukan Apa Yang Biasa Kita Sebut Perbedaan



Salam Damai Negeri Indonesiaku, Negeri Dimana aku terlahir, Negeri yang mengajarkanku tentang makna “Perbedaan”. Tiga hari yang lalu tepatnya tanggal 22 Desember 2016 telah genap 21th usiaku. Selama 21 tahun ini aku merasa bangga dan selalu bangga karena dilahirkan di tanah yang penuh Fitrah ini.

Negeriku memiliki banyak Ras, Suku, Bahasa dan Agama, alangkah sejuk hati ini ketika melihat sesuatu yang berbeda namun tetap satu tujuan yaitu menjaga ketentraman NKRI. Akan tetapi miris hati ini ketika ada golongan atau ormas tertentu memaksakan kehendaknya kepada orang lain entah itu Islam, Kristen, Hindu ,Budha, Konghuchu, apalagi disertai tindak anarkis, tawuran, ricuh dan sebagainya.

Baca Juga : Harus Bagaimana Aku?

Almarhum kakek saya Kyai. Zainudin (Mantan Pengurus Ponpes Darul Falah, Bendungrejo, Berbek, Nganjuk) pernah dawuh kepada para santrinya dan kebetulan saya juga ada disitu, beliau berkata “Warna memiliki macam warna, memang berbeda tapi apabila di campur satu persatu akan memunculkan sesuatu yang baru dan yang belum pernah kita ketahui sebelumnya”. Sudah 15 tahun silam ketika saya mendengarkan ucapan beliau dan masih terpampang jelas di depan fikiranku.

Kata tersebut mengandung makna yang dalam yakni “Berbeda itu boleh, asal jangan sampi terpisah,marilah bersatu dan mari kita buat sesuatu yang baru”. Menurut saya kata tersebut mirip bahkan persis dengan filosofi Gus Dur dan Ulama Besar NU lainnya.

Sedikit kutipan dari saya

"Bangsa Indonesia adalah bangsa yang majemuk, Kita sepakat untuk berbeda, Kita sepakat untuk hidup bersama di bawah filsafat Pancasila dan di bingkai oleh NKRI".


Terima kasih sudah mampir baca :)

This Is The Oldest Page


EmoticonEmoticon