Friday, 10 February 2017

Nilai Sebutir Nasi

Tags



Dalam perjalanan mencari ilmu, Habib Lutfi Bin Yahya Pekalongan berjumpa dengan seorang Kiai Sepuh.

Habib muda terheran-heran ketika menyaksikan akhlak Kiai Sepuh yang luar biasa. Yakni, ketika makan ada butiran nasi yang terjatuh lalu dipungut dan dikembalikan ke piring untuk dimakan kembali.

"Kenapa harus diambil, Kiai. Kan cuma nasi sebutir," ujar Habib muda penasaran.

"Lho, jangan dilihat sebutir nasinya. Apa kamu bisa bikin nasi sebutir ini, bahkan seper seribu menir saja?".

Terdiamlah Habib muda.

Kiai sepuh melanjutkan, "Ketahuilah pada saat kita makan nasi, sesungguhnya Gusti Allah telah menyatukan banyak sekali peran. Nasi itu namanya Sego Bin Beras Bin Gabah Al Pari. Mulai dari mencangkul, menggaru, meluku, menanam benih, memupuk, menjaga hama hingga memanen ada jasa banyak sekali orang. Kemudian mengolah gabah menjadi beras, dari beras menjadi nasi juga banyak sekali peran hamba Gusti Allah di sana."

Baca Juga : Dakwah Ramah

"Ketika ada satu butir nasi, atau menir sekalipun yang jatuh, ambillah. Jangan mentang-mentang kita masih banyak cadangan nasi. Itu bentuk dari takabur, dan Gusti Allah tidak suka dengan manusia yang takabur. Selama jatuh tidak kotor dan tidak membawa mudlorot bagi kesehatan kita, ambillah, satukanlah dengan nasi lainnya, sebagai bagian dari syukur kita".

Habib muda pun menyimak lebih dalam.

"Karena itulah ketika akan makan, diajarkan doa:

اللهم بارك لنا فيما رزقتنا و قنا عذاب النا ر

Allahumma bariklana (Ya Allah semoga Engkau memberkati Kami). Bukan Allahumma barikli (Ya Allah semoga Engkau memberkatiku), walaupun sedang makan sendirian.

"'Lana' itu maknanya untuk semuanya, mulai petani, pedagang, pengangkut, pemasak hingga penyaji semuanya termaktub dalam doa tersebut. Jadi doa tersebut, merupakan ucapan SYUKUR serta MENDOAKAN SEMUA ORANG yang berperan dalam kehadiran nasi yang kita makan."

Kiai Sepuh melanjutkan, "satu lagi, mengapa urusan makan tapi doa: waqina ‘adzaban nar (jagalah kami dari siksa neraka). Apa hubungan, makan kok dengan neraka? Kan gak nyambung."

"Inggih Kiai. Kok bisa ya?" tanya Habib Luthfi penasaran.

" Jadi begini. Kita makan ini hanya wasilah, media. Yang memberi kenyang itu Gusti Allah. Kalau kita makan dan menganggap bahwa yang mengenyangkan kita adalah makanan yang kita makan, maka ingatlah, itu akan menjatuhkan kita dalam kemusyrikan. Musyrik adalah dosa terbesar bagi orang beriman".

"Astaghfirullahal ‘azhim..." Habib membatin.

Tidak menyangka maknanya sedalam itu.

“Bayangkan. Bila kita makan dan minum tetapi Allah tidak menghilangkan rasa lapar dan dahaga kita. Apalah jadinya?”, pungkas Kiai Sepuh.


SUMBER: KH. Maman Imanul Haq


EmoticonEmoticon